
Bontang – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di bawah naungan Puskesmas Bontang Utara 1 berhasil ditekan hingga 52 persen sepanjang 2025. Penurunan ini dianggap sebagai bukti bahwa penanganan DBD di Kota Bontang berjalan di jalur yang tepat.
Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, dr. I Wayan Santika, menyebut pencapaian ini tidak lepas dari kombinasi strategi, mulai dari surveilans aktif, fogging terukur, pembagian abate, hingga inovasi teknologi Sigap DBD.
“Dulu banyak pasien masuk rumah sakit dalam kondisi gawat. Sekarang, dengan pemantauan digital, kasus bisa ditangani lebih awal sehingga tidak sampai parah,” jelasnya saat dikonfirmasi, Kamis (25/9/2025).
Meski begitu, ia mengakui ada tantangan baru di September, di mana kasus kembali naik hingga 24 pasien akibat musim hujan. Pola ini konsisten dengan tren lima tahun terakhir, di mana curah hujan selalu memicu lonjakan.
dr. Wayan menegaskan, kunci keberhasilan bukan hanya intervensi medis, melainkan kerja sama dengan masyarakat. Setiap laporan pasien dari rumah sakit harus segera direspons dalam 1×24 jam oleh tim surveilans di lapangan.
“Kalau hanya mengandalkan fogging, tidak cukup. Perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan justru menjadi penentu,” katanya.
Selain itu, keterlibatan RT dalam menerima update data mingguan dinilai efektif mendorong partisipasi warga. Dengan adanya peta kasus yang dibagikan, setiap wilayah bisa lebih cepat meningkatkan kewaspadaan.
Santika optimistis, dengan pola kerja sama ini, lonjakan kasus bisa dikendalikan sehingga Bontang tidak mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD seperti di daerah lain. (Re)











Leave a Reply