Ruang Kelas Minim, SMPN 8 Bontang Didorong Dapat Revitalisasi dari APBN

Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Heri Keswanto. (Istimewa)

BONTANG – SMP Negeri 8 Bontang Selatan masih menghadapi keterbatasan ruang untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Dari 468 siswa yang terbagi dalam 13 rombongan belajar, sekolah saat ini hanya memiliki delapan ruang kelas.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Heri Keswanto saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, kebutuhan ruang kelas dan ruang guru di SMPN 8 diperjuangkan melalui program revitalisasi sekolah yang bersumber dari APBN.

Kemudian, persoalan sarana dan prasarana SMPN 8 akan dibawa dalam koordinasi dengan kementerian. Sehingga, pihak dari sekolah diminta memastikan seluruh kondisi fasilitas tercatat dalam data pendidikan sesuai kondisi di lapangan.

Data tersebut dinilai penting untuk menjadi dasar dalam mengusulkan kebutuhan sekolah melalui program revitalisasi pemerintah pusat.

“Kalau untuk kelas sama kantor guru kami minta upayakan itu lewat APBN, program revitalisasi,” kata Heri Keswanto saat dikonfirmasi, Senin (10/8).

Ia mengatakan, program revitalisasi sekolah telah menjangkau sejumlah satuan pendidikan, termasuk sekolah swasta. Karena itu, ia meminta SMPN 8 menyampaikan seluruh kekurangan fasilitas agar dapat dibawa dalam pembahasan bersama kementerian.

“Jadi itu yang kami minta tadi sama pihak sekolah, sampaikan saja kekurangan-kekurangan, sehingga saat kami datang kunjungan ke kementerian kami langsung sampaikan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 8 Bontang Selatan, Eko Yuli Atmanto, menjelaskan keterbatasan ruangan membuat sekolah harus memanfaatkan fasilitas lain untuk mendukung proses pembelajaran.

Sekolah yang berdiri sejak 2007 tersebut hingga kini belum memiliki ruang guru. Ruangan perpustakaan akhirnya digunakan sebagai tempat kerja para guru, sementara sejumlah ruang lain juga dialih fungsikan untuk kegiatan belajar.

“Ruang kelas kami hanya delapan, rombongan belajar kami 13. Dari sisi fisik memang banyak kekurangan. Sekolah ini berdiri 2007, sampai sekarang ruang guru belum ada, sehingga kami menumpang di perpustakaan,” ungkapnya.

Keterbatasan ruang turut berpengaruh terhadap penerimaan peserta didik baru. Jika sebelumnya SMPN 8 masih dapat membuka lima kelas, saat ini kapasitas penerimaan hanya empat kelas.

Sehingga, sekolah terpaksa memanfaatkan ruangan yang tidak diperuntukkan sebagai ruang kelas. Salah satunya ruang toilet yang digunakan untuk kegiatan belajar siswa.

“Ruang toilet kami jadikan kelas, ada di ruang atas karena kekurangan itu. Kami sudah koordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk bisa mengusulkan beberapa item yang kekurangan,” tandasnya. (Adv)