
Bontang – Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang Saparuddin menanggapi sorotan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap program Wajib Belajar (Wajar) 19.00-21.00 Wita.
Menurutnya, inti dari program Wajar bukan pembatasan aktivitas pelajar di malam hari, melainkan upaya mendorong pelajar untuk mengisi waktu secara produktif saat malam hari.
Bahkan, dirinya tidak pernah melarang siswa untuk berada di luar rumah selama waktu tersebut, selama tujuannya jelas.
“Kami ingin anak-anak tetap belajar, bukan melarang mereka keluar. Kalau mereka sedang diskusi tugas di luar, itu tetap bagian dari belajar,” ujarnya, Jumat (23/5) 2025).
Ia menyebut, program ini fleksibel dan bisa disinergikan dengan pelaku usaha. Jika ada pelajar yang ingin belajar kelompok di tempat umum, termasuk kafe, hal itu sangat diperbolehkan.
“Kami sangat terbuka. Jika tempat usaha bisa jadi ruang belajar, kami siap dukung. Bahkan kami bisa bantu koordinasi,” katanya.
Ia menjelaskan, pelajar hanya perlu menyampaikan alasan dan lokasi jika memang harus belajar di luar rumah. Hal ini juga akan membantu pemerintah mengetahui kebutuhan para siswa dan sekaligus menjaga keamanan mereka saat malam hari.
“Bukan berarti siswa wajib diam di rumah. Tapi mereka harus tahu waktu, tahu tujuan, dan tahu tanggung jawab. Ini tentang menanamkan kesadaran, bukan sanksi,” sebutnha.
Ia menuturkan, telah menerima keluhan dari beberapa pelaku UMKM dan berkomitmen mencari solusi bersama. Salah satunya menjadikan tempat usaha sebagai mitra dalam penyediaan ruang belajar yang nyaman dan edukatif.
Sebelumnya, beberapa pelaku UMKM mengeluhkan berkurangnya pengunjung usia pelajar sejak program ini diterapkan. Namun, dirinya menilai hal ini dapat dijembatani dengan komunikasi dan kerja sama antar pihak.
“Kami yakin semua bisa diatur. Pendidikan dan ekonomi bisa jalan beriringan asal saling terbuka dan mendukung,” pungkasnya. (Adv/Rae)











Leave a Reply