
Bontang – Penyakit tidak menular (PTM) kembali mendominasi daftar 20 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Bontang Selatan II sepanjang tahun 2024. Data menunjukkan, hipertensi esensial atau tekanan darah tinggi menduduki peringkat pertama dengan total 3.333 kasus.
Selain hipertensi, diabetes mellitus non-insulin dependent juga masuk dalam kategori lima besar dengan ratusan kasus tercatat. Sementara itu, penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan common cold masih cukup tinggi, masing-masing mencapai 1.944 kasus dan 659 kasus.
Kepala Puskesmas Bontang Selatan II, dr. Livia Fitriati, menjelaskan bahwa pola penyakit di wilayahnya sudah mengalami pergeseran. Penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes kini mendominasi, bahkan lebih tinggi dibandingkan penyakit menular.
“Kalau kita lihat, yang paling tinggi itu hipertensi dan diabetes. Dua penyakit ini paling banyak ditemukan di usia produktif,” ungkapnya, Kamis (2/10/2025).
Menurut dr. Livia, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena penyakit tidak menular berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup masyarakat.
“Hipertensi dan diabetes memang tidak menular, tapi risikonya bisa memicu komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung,” ucapnya.
Meski begitu, kasus penyakit menular tetap tidak bisa diabaikan. Data puskesmas menunjukkan ISPA, demam tak spesifik, hingga tuberkulosis pernapasan masih tercatat cukup tinggi. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan baik terhadap penyakit menular maupun tidak menular.
Puskesmas Bontang Selatan II, kata dr. Livia, terus menggalakkan upaya promotif dan preventif. Edukasi terkait pola makan sehat, aktivitas fisik, hingga skrining rutin menjadi strategi utama untuk menekan angka hipertensi dan diabetes di masyarakat.
“Pencegahan harus dimulai dari diri sendiri, karena kebanyakan kasus muncul akibat gaya hidup yang kurang sehat,” jelasnya.
Ke depan, pihak puskesmas juga akan memperkuat program deteksi dini dan pemantauan kesehatan masyarakat, terutama kelompok usia produktif yang paling rentan.
“Kami ingin masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan, agar beban penyakit bisa ditekan,” pungkasnya. (Re)













Leave a Reply