
Bontang – Meski kasus demam berdarah di Bontang menurun dibanding tahun sebelumnya, sejumlah wilayah masih dinyatakan endemis. Puskesmas Bontang Utara 1 mencatat ada empat kelurahan yang selalu menjadi perhatian karena rawan penyebaran nyamuk Aedes aegypti.
Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, dr. I Wayan Santika, menyebut keempat wilayah tersebut adalah Kelurahan Api-Api, Gunung Elai, Gunung Telihan, dan Bontang Kuala.
“Dari dulu daerah ini memang endemis karena berada di tengah kota, dengan lingkungan yang padat dan banyak tempat penampungan air,” ujarnya, Kamis (25/9/2025).
Berdasarkan data 2025, tercatat ada 154 kasus DBD di bawah naungan Puskesmas Bontang Utara 1. Dari jumlah itu, 48 masuk kategori DBD dengan tanda perdarahan, sedangkan 104 termasuk Dengue Fever (DD) tanpa komplikasi.
Rata-rata kasus per bulan mencapai 12 pasien. Lonjakan tertinggi tercatat pada September dengan 24 kasus, seiring masuknya musim hujan yang mempercepat perkembangbiakan nyamuk.
Ia menekankan bahwa antisipasi dilakukan sejak Agustus, agar tren kasus tidak meningkat tajam hingga menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Tim surveilans diturunkan ke lapangan untuk memantau setiap laporan dari rumah sakit.
“Kalau ada pasien dirawat, dalam 1×24 jam surveilans harus memantau lingkungan sekitarnya. Jika ada penyebaran baru, kami tindak lanjuti dengan fogging,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga dilibatkan dalam program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Abate rutin dibagikan ke rumah-rumah agar warga bisa menekan populasi jentik nyamuk.
Puskesmas berharap kerja sama warga semakin kuat, karena pencegahan DBD bukan hanya tugas tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama. (Re)












Leave a Reply