
Bontang – Puskesmas Bontang Utara 1 terus berinovasi dalam menangani penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Melalui sistem pemetaan digital berbasis geospasial, yang dinamakan SIGAP DBD (Sistem Integrasi Geospasial dan Analisa Penyakit DBD), pemantauan penyebaran kasus kini lebih cepat dan akurat.
Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, dr. I Wayan Santika, mengatakan inovasi ini dikembangkan dari sistem sebelumnya bernama “Si Paris”. Transformasi itu dilakukan agar pemetaan kasus lebih modern dan langsung dapat dipantau di dashboard digital.
“Sekarang titik koordinat rumah pasien bisa langsung terdeteksi. Dari situ bisa dihitung radius penyebaran hingga 100 meter, apakah ada kasus baru di sekitarnya atau tidak,” ungkapnya, Kamis (25/9/2025).
Aplikasi ini menggunakan perangkat Kobo Collect yang mirip Google Form, namun dengan fitur lebih lengkap. Data yang masuk secara otomatis memperbarui grafik kasus pada dashboard, sehingga tim surveilans dapat segera mengambil tindakan di lapangan.
Jika ada temuan penyebaran baru, tim akan mengusulkan fogging dua siklus. Namun bila tidak, Puskesmas tetap membagikan abate kepada masyarakat untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Setiap pekan, hasil pemetaan SIGAP DBD disebarkan ke seluruh RT di wilayah kerja Puskesmas. Dengan begitu, warga bisa mengetahui area rawan penyebaran dan meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing.
Menurut dia, berkat sistem ini, tren kasus DBD di 2025 berhasil ditekan hingga 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Inovasi teknologi ini membuat pencegahan lebih cepat, sehingga pasien tidak masuk rumah sakit dalam kondisi parah,” jelasnya.
Ia berharap pemanfaatan SIGAP DBD dapat menjadi contoh sistem digital yang efektif untuk diterapkan di wilayah lain di Kota Bontang. (Re)












Leave a Reply