Irfan Gagas Skema Baru Penempatan Tenaga Kerja ke Jepang

Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang, Muhammad Irfan. (Istimewa)

BONTANG – Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang, Muhammad Irfan, menggagas model baru penempatan tenaga kerja ke Jepang dengan membuka dua jalur sekaligus, yakni sebagai tenaga ahli dan peserta pemagangan.

Diklaim, skema tersebut menjadi yang pertama di Indonesia. Program ini dirancang untuk mengakomodasi calon pekerja yang telah memiliki kompetensi maupun yang masih perlu meningkatkan keterampilan.

Nantinya, peserta yang telah mengantongi sertifikat kompetensi, terutama di bidang welder dan scaffolding, akan diberangkatkan melalui jalur tenaga ahli. Sementara peserta yang belum memiliki keahlian akan mengikuti program pemagangan lebih dulu.

“Jadi bukan saja magang, tapi juga yang punya keahlian. Ada dua jenis program kerja. Yang sudah punya sertifikat masuk sebagai tenaga ahli, sedangkan yang belum akan magang,” kata Irfan -sapaan akrabnya- saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).

Ia mengatakan, perusahaan-perusahaan di Jepang saat ini memiliki kebutuhan tinggi terhadap tenaga kerja di bidang welder dan scaffolding. Sehingga, peserta yang telah memiliki kompetensi hanya perlu mengikuti pelatihan bahasa serta pemahaman budaya Jepang selama sekitar tiga hingga empat bulan sebelum diberangkatkan.

Seluruh peserta nantinya akan menjalani pembinaan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang telah menjalin kerja sama dengan mitra di Jepang. LPK tersebut bertugas memberikan pelatihan bahasa, pembekalan budaya, memfasilitasi sertifikasi, hingga mengurus proses administrasi keberangkatan.

“Kalau sudah punya keahlian, kita didik bahasa dan budayanya. Kemudian ada sertifikasi, karena sertifikasi di Jepang didasari sertifikasi yang dimiliki di Indonesia sebagai bukti orang yang kita kirim memang sudah tenaga ahli,” terangnya.

Ia menilai, formulasi tersebut menjadi inovasi dalam sistem penempatan tenaga kerja ke luar negeri dan belum diterapkan di daerah lain.

“Bukan saja di Kalimantan Timur, ini yang pertama kita adakan di Indonesia. Khususnya di Bontang, saya mencoba memformulasikan skema ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, dan Penempatan Tenaga Kerja Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang, Takdir Mannang, menyampaikan minat masyarakat terhadap program kerja ke Jepang meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ia mengungkapkan, jika pada periode sebelumnya Disnaker hanya mampu memberangkatkan dua peserta, kini kesempatan yang tersedia jauh lebih besar. Menurutnya, pengalaman Muhammad Irfan yang pernah mengikuti program pemagangan di Jepang turut membuka akses lebih luas bagi tenaga kerja asal Bontang.

“Harapan kami, semua adik-adik bisa mengikuti jejak beliau karena kami anggap sukses menjalani kegiatan pemagangan di Jepang. Ini juga menjadi pertama kalinya Bontang mendapat peluang sebesar ini,” tandasnya. (Adv)